Wayang Topeng pada dasarnya mirip
dengan Wayang Orang. Perbedaannya adalah penggunaan perlengkapan topeng penutup
wajah pada Wayang Topeng. Selebihnya, iringan gamelan, cara pementasan, tari,
dan lain-lain lebih kurang serupa dengan Wayang Orang.
Sebagian peneliti wayang memperkirakan Wayang
Topeng Purwa merupakan Wayang topeng yang pertama, diciptakan oleh Sunan
Kalijaga, salah seorang dari Walisanga. Ini terjadi pada tahun 1586 M, atau
1508 saka, ditandai dengan candra sengkala Hangesti Sirna Yakseng Bawana,
di zaman Kesultanan Demak.
Selain menyebar ke berbagai daerah, dalam perkembangannya,
Wayang Topeng itu terpecah menjadi beberapa jenis diantaranya adalah: Wayang
Topeng Purwa yang menggunakan topeng untuk peran-peran kera pada cerita
Ramayana, dan peran-peran raksasa, misalnya Kumbakarta, Prahasta, dan
lain-lain.
Wayang Topeng Madura sering pula disebut
Topeng Dalang Madura, sampai awal tahun 1990-an masih tetap digemari
masyarakatnya. Dalam Wayang Topeng Madura, peran dalang amat penting, serupa
dengan dalang Wayang Kulit Purwa. Para penari Wayang Topeng Madura sama sekali
tidak memba-wakan dialog, karena tugas itu dikerjakan oleh dalang.
Dibandingkan dengan Wayang topeng yang ada di
Jawa Tengah, Wayang Topeng Cirebon lebih merakyat. Pada setiap pementasan,
selalu terjadi keakraban antara penari dan penabuh gamelan di satu pihak,
dengan para penonton. Sampai tahun awal dasawarsa 1990-an, kelompok Wayang
Topeng Cirebon masih banyak dimanfaatkan masyarakat untuk meramaikan pesta
khitanan dan perkawinan.
Wayang Topeng Losari tidak banyak berbeda
dengan Wayang Topeng Cirebon, tetapi pementasannya terasa lebih santai lagi.
Tokoh Wayang Topeng Losari yang terkenal di antaranya adalah Ibu Dewi dan Ibu
Sawitri. Sampai pada usia di atas 60 tahun mereka masih aktif dalam kesenian itu.

0 komentar:
Posting Komentar